Tips Sederhana Cara menghitung RAB Volume pekerjaan

I. Pekerjaan Awal
  1. PengukuranYang dimaksud dengan pengukuran adalah sebelum memulai pekerjaan, untuk menentukan posisi dari bangunan dilakukan pengukuran batas-batas, volume pengukuran adalah dihitung dg satuan lumpsum, missal diperkirakan dikerjakan 2 hari dengan 2 tukang, sehingga perhitungan sbb ,upah tukang Rp.50.000, maka biaya 50.000 x 2 x 2 = Rp. 200.000.
  2. Bowplank Digunakan untuk membantu menentukan As atau letak titik dari bangunan, dengan cara membuat pagar menggunakan papan2/15 dipaku pada kayu ukuran 5/7 sebagai tiang, dibuat dengan jarak 1 meterdari as bangunan dipasang keliling bangunan. Misal rumah ukuran 6 x 7 , maka volume bowplank adalah (6+1+1) + (7+1+1) =17m. Harga dan kebutuhan material dapat dilihat pada Analisa pekerjaan.


II. Pekerjaan Galian dan urugan
  1. Galian Adalah pekerjaan menggali yang berhubungan dengan pembuatan fondasi, dalam dan lebarnya fondasi ditentukan oleh type fondasi. Misal lebar bawah fondasi 70 cm, maka lebar dari galian adalah 70 cm ditambah kiri 10 cm kanan10 cm menjadi 70 + 20 = 90 cm, sedangkan kedalaman galian juga ditentukan oleh keadaan tanah baik, tetapi kalau kondisi tanah biasa umumnya kedalaman galian 70 cm, maka volume galian adalah 0.9 m x 0.7 m x panjang fondasi = satuan m3, sedangkan untuk menentukan berapa jumlah tenaga atau upah dapat dilihat analisa pekerjaan galian.
  2. Urugan Adalah pekerjaan mengurug lantai bangunan, volume dihitung luas bangunan dikalikan tinggi urugan satuan m3, kebutuhan material urugan dan jumlah tenaga atau upah dapat dilihat pada analisa pekerjaan.
  3. Mengurug kembali Adalah mengurug bekas galian Fondasi, volume biasanya dihitung 1/3 dari volume galian, contoh volume galian 60 m3 maka urugan kembali adalah 60m3/3 = 20 m3.

III. Pekerjaan Fondasi
  1. Lantai Kerja Adalah suatu item pekerjaan yang lokasinya dibawah fondasi (lihat fondasi Rumah), lantai kerja dapat berupa urugan pasir dengan tebal 10 cm, pasangan batu kali kosong, atau beton dengan campuran 1:3:5 tebal 5 s/d 10 cm. Cara perhitungan adalah luas dikalikan tebal dengan satuan m3, kebutuhan material dan upah lihat analisa pekerjaan.
  2. Pasangan Fondasi yang kami maksudkan disini adalah fondasi batu kali (stal) untuk bangunan rumah lantai 1, cara menghitung volume hitung semua panjang fondasi kemudian dikalikan tinggi fondasi, dan dikalikan (lebar atas + lebar bawah dibagi 2), satuan m3. Contoh: panjang seluruh fondasi 50 meter, tinggi fondasi 0,7 meter, lebar atas fondasi 0.3 meter lebar bawah fondasi 0.7 meter, maka volumenya adalah 50 x0,7 x ((0,3 + 0,7) / 2) = 17,5 m3.

IV. Pekerjaan Beton
  1. Sloof Yang dimaksud dengan sloof adalah struktur bangunan yang berada diatas fondasi untuk lebih jelas lihat sloof rumah lantai 1 dan
  2. Cara menghitung volume sebagai berikut : untuk volume beton panjang total sloof x lebar x tinggi = satuan m3. Untuk perhitungan jumlah besi beton, pertama yang dicari adalah jumlah begel, dengan cara panjang total sloof dibagi jarak begel ditambah 1 = jumlah begel, jumlah begel dikalikan panjang satu begel = panjang total besi beton yang dibutuhkan. Misal sloof 15/20, begel d 8 – 15, panjang total 25 meter, jumlah begel =(25/0.15)+1=167,6 bh = 168 bh, sedangkan panjang satu begel = ((15 -5)x 2)+((20-5) x 2)= 50 cm, maka total besi beton untuk begel adalah 0,5 x 168 = 84meter, satu batang besi beton panjang standar adalah 12 m, 84/12= 7 batang. Untuk menghitung besi beton tulangan pokok yaitu dengan cara jumlah tulangan pokok dikalikan panjang total.
  3. Sedangkan untuk perhitungan RAB besi beton tidak dihitung, yang ditampilkan adalah volume beton.
  4. Kolom Cara menghitung Volume adalah tentukan atau hitung jumlah kolom kemudian dikalikan tinggi kolom, sehingga mendapat total panjang kolom x lebar x tinggi = volume kolom satuan m3.
  5. Ring balk. Cara menghitung volume sama dengan perhitungan sloof dan kolom.

V. Pekerjaan Dinding
  1. Pasangan Bata. Dinding pasangan bata ada 2 cara menghitung yaitu dengan cara perhitungan luas dan dengan cara perhitungan isi, untuk perhitungan isi jarang sekali digunakan, akan tetapi bila suatu saat dibutuhkan dengan cara perhitungan isi, caranya adalah luas x tebal, untuk tebal tergantung jenis pasangan bata, pasangan 1 bata atau ½ bata ,untuk ukuran 1 bata yaitu 30 cm sedangkan ukuran ½ bata 15 cm. Cara menghitung luas pasangan bata adalah sebagai berikut, pertama hitung keliling dari dinding, kalikan dengan tinggi dinding, dan dikurang luas dari daun jendela, daun pintu, boven, satuan m2.
  2. PlesteranVolume plesteran adalah 2 x dari volume pasangan bata.
  3. AcianSama dengan cara menghitung volume plesteran tetapi dikurangi, daerah yang tidak di aci seperti dinding keramik dll.
  4. Sponengan atau tali air Sponengan atau tali air adalah batas antara kusen dan plesteran, bila lebar kusen kurang dari lebar dinding (15 cm) maka batas antara kusen dan plesteran disebut sponengan, sedangkan bila lebar kusen sama dengan lebar dinding maka batas antara kusen dan plesteran disebut tali air.

VI. Pekerjaan Kusen dan Pintu, Jendela
  1. Pembuatan Kusen Cara perhitungan kusen pada RAB ada 2 macan yaitu dengan satuan jadi, atau m3, untuk satuan m3 yaitu hitung semua panjang dari bahan pembuat kusen kemudian dikalikan dengan tebal dan lebar dari kayu, satuan m3. Kebutuhan material dan upah dapat dilihat pada analisa pekerjaan.
  2. Daun Pintu. Daun pintu ada beberapa macam, missal daun pintu panil atau doble plywood, dalam perhitungan volume untuk RAB biasanya di hitung perunit.
  3. Pasang Kusen Pintu dan Jendela Volume pemasangan bermacam-macam, antara lain dg cara panjang keliling kusen, perlubang, atau perunit.
  4. Pasang Daun Pintu dan Jendela Volume pemasangan dihitung perunit, diluar pemasangan kunci tanam, hak angin, slot.

VII. Pekerjaan Rangka Atap.
  1. Pembuatan Kuda-Kuda Volume dihitung dengan satuan m3, yaitu panjang total bahan dikalikan dimensi kayu yang dipakai. Contoh, panjang total bahan yang digunakan untuk kuda-kuda adalah 25meter kayu yang digunakan 8/12 maka volume adalah 25 x 0.08 x 0.12 =0.24 m3.untuk harga dapat dilihat analisa pekerjaan.
  2. Pembuatan Gording. Yang dimaksud dengan pembuatan gording adalah pembuatan sambungan antara gording, satuan adalah m3, cara mencari volume sama dengan cara mencari volume pada perhitungan kuda-kuda.
  3. Pembuatan Jurai. Sama dengan pembuatan gording,
  4. Pembuatan Balok Nok. Sama dengan pembuatan gording, dan Jurai. Untuk ketiga item pekerjaan tersebut dimensi kayu biasanya sama hanya letak saja yang membedakan nama item pekerjaan.
  5. Pasang Kuda-kuda.Yang dimaksud pasang kuda-kuda biasanya disebut erextion kuda-kuda, adalah pemasangan kuda-kuda dilokasi tempatnya kuda-kuda. Tidak membutuhkan material tambahan karna kuda-kuda dipasang setelahdibuat. Biaya biasanya diambil 50 % dari biaya pembuatan kuda-kuda. Begitu juga untuk pemasangan jurai, gording, balok nok. Satuanvolumenya adalah m3.
  6. Pasang Papan Suri. Yang dimaksud dengan papan suri adalah, papan yang letaknya diatas balok nok, yang berfungsi untuk menahan kerpus, ukuran yg digunakanbiasanya 2/20 dapat juga lebih kecil atau lebih besar sesuai kebutuhandilapangan. Satuan volumenya adalah m’.
  7. Pasang Usuk. Usuk biasanya menggunakan kayu ukuran 4/6 atau 5/7, yg sering digunakan adalah kayu ukuran 5/7, untuk atap yg menggunkan asbes atau seng tidak memakai usuk, cukup dengan gording. Perhitungan usuk yaitu luas dengan satuan m2. kebutuhan matererial dan upah lihat analisa pekerjaan.
  8. Pasang Alumunium poil. Pemasangan alumunium poil dimaksudkan untuk mengurangi panas danmencegah tampias saat terjadi hujan yang disertai angin, bahan yang digunakan tidak mutlak alumunium poil, dapat diganti dengan karpetatau seng plat. letak alumunium poil adalah diantara usuk dan reng. Satuannya adalah m2.
  9. Pasang Reng. Reng ukuran yang digunakan ada dua macam yaitu 2/3 atau¾, tergantung jenis genteng yang dipakai, untuk genteng beton biasanya menggunakan ukuran ¾ , perhitungan reng adalah sama dengan menghitung usuk yaitu luas dengan satuan m2. (luas reng sama dengan luas dari usuk).
  10. Pasang Genteng ada beberapa jenis, akan tetapi yang umum adalah genteng beton dan genteng keramik. Perhitungan volume adalah luas dengan satuan m2. biasanya sama dengan luas reng maupun usuk.
  11. Pasang talang Talang ada beberapa jenis bahan yang digunakan, talang seng, talang PVC, talang beton, untuk setiap jenis bahan cara perhitungan volume berbeda-beda, untuk talang yang terbuat dari seng volume nya adalah luas dengan satuan m2, talang yang terbuat dari PVC volumenya adalah panjang dengan satuan m’, sedangkan untuk talang beton dapat dihitung dengan m3 ataupun m2.
  12. List plank ada beberapa jenis bahan yang digunakan, yaitu bahan darikayu, beton, pvc, fiber dll, tetapi saat ini list plank yang sering digunakan adalah terbuat dari kayu dan beton, perhitungan volume ada yang menggunakan m’,m2,m3. perhitungan volume tidak mengikat.

VIII. Pekerjaan Penggantung dan Pengunci.
  1. Rangka Plafond Rangka plafon ada beberapa jenis bahan yang digunakan, yaitu rangka kayu 4/6, rangka besi (bermacam-macam). Untuk perhitungan volume kalau menggunakan kayu biasanya dihitung luas, sedangkan untuk besi dihitung dengan berat (kg).
  2. Pasang PlafonPlafon bermacam-macam dari jenis bahan yang digunakan, seperti, bahan kayu, eternit, asbes plat, playwood, gibsum dll, untuk perhitungan volume adalah luas dengan satuan m2.
  3. Pasang Kunci tanam, grendel, hak angin. Perhitungan menggunakan satuan unit, atau buah.
  4. Pasang Kaca.Pemasangan kaca yaitu dengan perhitungan luas satuan m2.5. List plafond Yang dimaksud dengan list plafon adalah list yang berada dipinggir pertemuan antara plafond dengan dinding, tujuan pemasangan list, agarterlihat rapi. Satuan volume adalah m’

IX. Pekerjaan Lantai dan keramik.
  1. Beton Lantai 1:3:5 Yang dimaksud dengan beton lantai, biasanya disebut floor, ataup lesteran lantai, tebal beton lantai untuk rumah tinggal mulai dari 5 cmsampai dengan 10 cm. sebelum lantai diplester sebaiknya diberi urugan pasir setebal 10 cm. Untuk perhitungan volume lantai beton m3, tetapi kadang-kadang ada yang membuat m2.
  2. Pasang keramik lantai utama dan wc. Pemasangan keramik lantai volume yang digunakan adalah luas dg satuanm2.
  3. Pasang Keramik Dinding. Pemasangan keramik dinding volume yang digunakan adalah luas dg satuan m2.

X. Pekerjaan Sanitasi
  1. Pasang Saluran air bersih pvc ¾”. Perhitungan volume adalah panjang dengan satuan m’.
  2. Pasang Saluran Air kotor pvc 4” Perhitungan volume adalah panjang dengan satuan m’.
  3. Pasang Closet, kran Perhitungan volume adalah buah atau unit.
  4. Pembuatan Septick tank atau beerput. Septick tank atau beerput adalah suatu tempat untuk menampung kotoran manusia, perbedaan septick tank dan beerput adalah dari bentuk medan bahan yang digunakan akan tetapi fungsinya sama. Septick tank bahan yang digunakan adalah pasangan bata, dengan ukuran persegi panjang, sedangkan kalau beerput bahan yang digunakan buis beton diameter 80 cm s/d 90 cm. biasanya perhitungan volume adalah unit (lansung jadi).
  5. Saluran Peresapan atau Sumur Peresapan. Saluran peresapan atau sumur peresapan adalah suatu bangunan yangberfungsi sebagai peresapan air dari buangan septick tank.
continue reading Tips Sederhana Cara menghitung RAB Volume pekerjaan

Analisa Desain Kolam, Perhitungan dimensi awal kolom

Supaya lebih mudah tentu saja akan kami berikan langsung contoh kepada sahabat semua dimana kita akan membangun sbeuah kolam dengan dimensi balok induk ukuran 400x200 mm ditambah dengan tinggi sampai dengan dimensi lainya perhatikan ulasan dibawah ini.

Kolom
Contoh data-data teknis untuk perhitungan dimensi awal kolom adalah sabagai berikut: 
  1. Tinggi kolom Lt 1             = 3,5 meter 
  2. Tinggi kolom Lt 2             = 3,5 meter 
  3. Dimensi balok Induk        = 400 x 200 mm 
  4. Dimensi balok anak          = 250 x 150 mm 
  5. Pelat lantai (t)                   = 120 mm 
  6. Pelat atap (t)                     = 100 mm 
Pembebanan pada kolom 
Beban yang bekerja pada kolom lantai 1 diakumulasikan dengan beban-beban yang bekerja pada kolom lantai 2. Hal ini dilakukan agar dimensi kolom lantai 1 tidak lebih kecil dari dimensi kolom pada lantai 2. Perhitungan pembebanan pada kolom adalah sebagai berikut:

a)        Pembebanan kolom lantai 2

Distribusi pembebanan kolom lantai 2, berasal dari dak atap pada elevasi 7 m dan ring balok lantai 2. Perhitungannya sebagai berikut :
Perhitungan beban mati yang bekerja pada kolom adalah sebagi berikut:

Wbalok  
  •  A x  x L
  •  0,4 x 0,2 x 2400 x ( 2,25 + 2,5 + 2 ) ]
  •    1104 kg

Wpelat    
  • beban pelat atap
  • A x  x tpatap
  • ( 4,75 x 2 ) x 2400 x 0,1
  • 2280 kg

Data berat plafon dan penggantung diperoleh dari Perencanaan Pembebanan untuk rumah dan gedung, dimana: 
Berat eternit/plafon (tebal 4mm)           = 11 kg/m2 
Berat penggantung (dari kayu)              = 7,0 kg/m

Total beban mati pada lantai 2 adalah: 
WDL2            
  • Wbalok + Wpelat  + Wplafon
  •  1104 kg + 2280kg + 171 kg
  •   3555 kg
Beban hidup yang bekerja pada lantai dan membebani kolom di lantai dua ini adalah : 
WLL2       
  • 200 kg/m2 x 4,75 x 2
  •  1900 kg
Nilai beban hidup diperoleh dari pedoman perencanaan pembebanan untuk rumah dan gedung, dimana bangunan tersebut berfungsi sebagai rumah tinggal dan mempunyai nilai beban hidup sebesar 200 kg/m2.Maka beban yang terjadi pada kolom lantai 2 seluruhnya dapt dihitung dengan kombinasi pembebanan, sehingga beban pada kolom lantai 2 adalah:
W2                          
  •  1,2 WDL2 + 1,6WLL2
  •  (1,2 x 3555) + (1,6 x 1900 )
  •  7306 kg

b)           Pemebebanan Kolom Lantai 1
Distribusi pembebanan kolom lantai 1, berasal dari lantai 2 pada elevasi 3,5 m. Elemen-elemen yang diperhitungkan sama dengan pembebanan kolom lantai 2 ditambah dengan perhitungan beban mati dan beban hidup untuk kolom lantai 1.
Perhitungannya beban mati yang bekerja pada kolom adalah sebagai berikut:
Wbalok     
  •   A x  x L
  •  { 0,25 x 0,15 x  2400 x ( 2,25 + 2,5 + 2 ) 
  • 607,5 kg
Wkolom   
  •  A x  x L
  •  (0,25 x 0,15) x 2400 x 3,5 
  •   315 kg
Wpelat 
  •  beban pelat
  • A x  x tppelat
  •  ( 2 x 4,75 ) x 2400 x 0,12
  •  2736 kg

Wwall       
  • A x (berat plafon + penggantung)
  •   ( 3,5 x 4,75 ) x 250 kg/m2
  •    4156,25 kg

Wfinishing 
  •  A x [berat spesi (adukan) + ubin + pasir urug]
  •  ( 2 x 4,75 ) x (21 kg.m2 + 22 kg/m2 + 24 kg/m2)
  •  636,5 kg

Besar beban finishing dan beban dinding diperoleh dari peodman perencanaan pembebanan untuk rumah dan gedung.

Wplafon     
  •  A x ( berat plafon + penggantung)
  •   (4,75 x 2) x 18 kg/m2
  •  171 kg
Data berat plafon dan penggantung diperoleh dari Perencanaan Pembebanan untuk rumah dan gedung, dimana:
Berat eternit/plafon (tebal 4mm)           = 11 kg/m2
Berat penggantung (dari kayu)             = 7,0 kg/m2

    Total beban mati pada lantai 1 adalah:
WDL1 
  •  Wbalok + Wkolom + Wwall + Wpelat + Wplafon + Wfinishing + WDL2
  •   607,5 + 315 + 4156,25 + 2736 + 171 + 636,5 + 3555
  •  12177,25 kg

 Beban hidup yang bekerja pada lantai dan membebani kolom di lantai satu ini adalah :  
WLL1    

  •  200 kg/m2 x 4,75 x 2
  • 1900 kg
    Nilai beban hidup diperoleh dari pedoman perencanaan pembebanan untuk ruma dan gedung, dimana bangunan tersebut berfungsi sebagai rumah tinggal dan mempunyai nilai beban hidup sebesar 200 kg/m2.Maka beban yang terjadi pada kolom lantai 2 seluruhnya dapt dihitung dengan kombinasi pembebanan, sehingga beban pada kolom lantai 2 adalah:
    W1       
    •  1,2 WDL1 + 1,6WLL1
    •                (1,2 x 12177,25)  + (1,6 x 1900)
    •             17652,7 kg

Perhitungan Dimensi Awal Kolom
Perhitungan dimensi awal kolom dihitung berdasarkan SK SNI 03-2847-2002, dengan persamaan berikut: 
Ø Pn (max) = 0,8 Ø [ (0,85 .  fc (Ag – Ast) + fy Ast ]
 Dimana :
Ø Pn (max)           = Beban aksial maksimum
Ag                         = Luas penampang kolom
Ast                        = 1,5 % x Ag
Maka perhitungan dimensi awal kolom adalah sebagai berikut: 
Ø Pn(max) = 0,8 Ø [ (0,85 .  fc (Ag – Ast) + fy Ast 
Pn(max)     = 0,8 Ø [ (0,85 .  fc (Ag – Ast) + fy Ast ]
                   = 0,8 [ (0,85 . 25 (Ag – 0,015 . Ag) + 400 . 0,015 . Ag ]
                   = 0,8 [(21,25 . (Ag – 0,015 . Ag) + 6Ag]
                  = 0,8 [ 21,25 Ag – 0,32 Ag + 6Ag
           Ag  = 0,0464 Pn(max)

a)      Dimensi Kolom Lantai 2 
Dimensi kolom lantai 2 dihitung sebagai berikut : 
Beban yang bekerja pada kolom lantai 2 = W2 = 8408,8 kg 
Ag        = 0,0464 Pn(max)
               = 0,0464 . 8408,8 kg
             = 390,168 cm2 
Dimabil lebar kolom (b) = tebal dinding, yaitu sebesar 15 cm 
                              Maka panjang kolom adalah :
h           = Ag / b
                         = 390,168 / 15
                         = 26,011 cm ≈ 30 cm
                              Maka dimensi kolom K1 150 x 300 mm

b)   Dimensi Kolom Lantai 1 
Dimensi kolom lantai 2 dihitung sebagai berikut :
Beban yang bekerja pada kolom lantai 1 = W1 = 20009,2 kg
Ag        = 0,0464 Pn(max) 
            = 0,0464 . 20009,2 kg
            = 928,427 cm2 
Dimabil lebar kolom (b) = tebal dinding, yaitu sebesar 30 cm
Maka panjang kolom adalah :
h           = Ag / b
             = 928,427/ 30
             = 30,948 cm ≈ 40 cm
Maka dimensi kolom K1 300 x 400 mm  

           
                                                  TABEL DIMENSI KOLOM                                                   
Tipe Balok
h (mm)
b (mm)
Kolom lantai I
400
300
Kolom lantai II
300
150

continue reading Analisa Desain Kolam, Perhitungan dimensi awal kolom

Bocoran Katalog Promo Tupperware Juni 2019, TERLENGKAP!

Bocoran Katalog Promo Tupperware Juni 2019 - yuk temukan aneka produk terbaru yang sedang promo bulan ini di tupperware. Anda tentu saja ingin melihat katalog lengkapnya bukan, buat yang belum langganan menjadi member tupperware dan ingin membeli salah satu produk yang sedang diskon.

Saat ini berdasarkan data dimana pengguna plastik kemudian produk yang dikelurkan oleh tupperware memang semakin meningkat. Apa yang menyebabkanya, salah satunya adalah kualitas dari semua produk yang dijual oleh pihak tupperware memang sangat berkualitas dalam artian tahan lama dan dari sisi desain sangat cantik dan menarik.

Hampir setiap bulan anda bisa menikmati promo tupperware dari banyak jenis barang yang berbeda mulai dari botle air minum kemudian wadah penyimpanan makanan sampai dengan alat memasak dan perlengkapan dapur anda. Nah dibawah ini kami hadirkan neh bocoran promo tupperware dibulan ini kepada bunda sehingga nanti bisa langsung membeli di geray terdekat di kota anda.

Nah buat anda yang kemarin bertanya mengenai water dispenser ini ada promo yang bisa anda beli sampai dengan bulan depan. Dimana harga promonya tidak sampai 500 ribu kok dimana kalau harga biasa memang lebih mahal. Apa saja yang akan anda dapatkan? bisa kepoin dalam gambar ini ya.

Katalog Promo Tupperware Juni 2019



Buat bunda yang bingung menaruh bawaan makanan dan minuman serta makanan ringan ketika wisata atau piknik bersama keluarga sehingga lebih simple maka bisa deh mencoba produk yang satu ini yakni wadah jinjing keren yang siap menampung banyak kebutuhan makanan anda. Harga promonya juga lebih murah hanya 400 ribu saja anda sudah bisa mendapatkan beberapa wadah dengan desain yang lucu.



Eco bottle bisa dikatakan salah satu produk yang hampir tiap bulan ada promonya. Yap, wadah menyimpan minuman ini cocok anda beli untuk buah hati anda yang sekolah misalkan dimana mereka akan selalu mengkonsumsi minuman yang anda berikan dari rumah dan tentu akan lebih sehat dan irit.




Tidak hanya memberikan promo dari sisi kebuthan akan perlengkapan makan dan minum namun tentu juga anda bisa memberikan fasilitas terbaik bagi buah hati anda dengan adanya Littel bee gift set ini dimana sudah dilengkapi dengan banyak produk lain selengkapnya simak yuk katalog lainya dibawah ini.


















Baiklah bunda sampai disni dulu kami bisa informasikan kepada anda mengenai katalog lengkap promo tupperware april 2019 semoga saja anda bisa menemukan barang yang sedang anda cari dalam promo ini kami ucapkan terimkasih sudah mampir ke blog kami.
continue reading Bocoran Katalog Promo Tupperware Juni 2019, TERLENGKAP!

CONTOH PERHITUNGAN PERENCANAAN PERKERASAN JALAN

Jika anda membangun sebuah jalan maka tentu dibutuhkan sebuah perhitungan yang matang dari sisi perencanaanya dimana kali ini kami bahas lengkap sampai pada detail hitung hitungan.

Perhitungan Tebal Lapisan Perkerasan
Untuk merencanakan Lapisan Tebal Perkerasan pada perencanaan konstruksi jalan raya, data-datanya yaitu :

Komposisi kendaraan awal umur rencana pada tahun 2009
  1. Mobil penumpang (1+1) = 1850 Kendaraan
  2. Bus 8 ton (3+5) = 385 Kendaraan
  3. Truk 2 as 10 ton (4+6) = 75 Kendaraan
  4. Truk 2 as 13 ton (5+8) = 35 Kendaraan
  5. Truk 3 as 20 ton (6+7+7) = 25 Kendaraan
Jalan akan dibuka pada tahun 2013

Klasifikasi Jalan

  1. Klasifikasi Jalan = 1
  2. Jalan = Kolektor
  3. Lebar Jalan = 7 meter
  4. Arah = 2 jalur, 2 arah tanpa median
Umur Rencana (5+5) tahun

Pertumbuhan lalu lintas

  • = 5 % selama pelaksanaan
  • = 5 % perkembangan lalu lintas
Curah hujan rata-rata pertahun : 750 mm/tahun

Kelandaian jalan 6%

Jenis lapisan perkerasan yang digunakan :

  • Lapisan permukaan : Laston
  • Pondasi atas : Batu pecah kelas A
  • Pondasi bawah : Sirtu Kelas B

Data CBR : 4 5 6 7 8 9 10 5 4 8

Menghitung LHR ( Lintas Harian Rata-Rata)

  • a. Komposisi Kendaraan awal umur rencana (2009)
  • a. Mobil penumpang (1+1) = 1850 kendaraan
  • b. Bus 8 ton (3+5) = 385 kendaraan
  • c. Truk 2 as 10 ton (4+6) = 75 kendaraan
  • d. Truk 2 as 13 ton (5+8) = 35 kendaraan
  • e. Truk 3 as 20 ton (6+7+7) = 25 kendaraan
LHR 2009 (a+b+c+d+e) = 2370 Kendaraan

Perhitungan LHR pada tahun 2013 

  • a. Mobil penumpang 1850 x ( 1 + 0,05)4 = 2249 kend/hari
  • b. Bus 8 ton 385 x ( 1 + 0,05)4 = 468 kend/hari
  • c. Truk 2 as 10 ton 75 x ( 1 + 0,05)4 = 91 kend/hari
  • d. Truk 2 as 13 ton 35 x ( 1 + 0,05)4 = 43 kend/hari
  • e. Truk 3 as 20 ton 25 x ( 1 + 0,05)4 = 30 kend/hari
LHR 2013 (a+b+c+d+e) = 2881 kend/hari

Perhitungan LHR pada tahun pada Tahun ke 5 (2018)

  • a. Mobil penumpang 2249 x ( 1 + 0,05)5 = 2870 kend/hari
  • b. Bus 8 ton 468 x ( 1 + 0,05)5 = 597 kend/hari
  • c. Truk 2 as 10 ton 91 x ( 1 + 0,05)5 = 116 kend/hari
  • d. Truk 2 as 13 ton 43 x ( 1 + 0,05)5 = 54 kend/hari
  • e. Truk 3 as 20 ton 30 x ( 1 + 0,05)5 = 39 kend/hari
LHR 2018 (a+b+c+d+e) = 3677 kend/hari

Perhitungan LHR pada tahun pada Tahun ke 5 berikutnya (2023) 

  • a. Mobil penumpang 2870 x ( 1 + 0,05)5 = 3663 kend/hari
  • b. Bus 8 ton 597 x ( 1 + 0,05)5 = 762 kend/hari
  • c. Truk 2 as 10 ton 116 x ( 1 + 0,05)5 = 148 kend/hari
  • d. Truk 2 as 13 ton 54 x ( 1 + 0,05)5 = 69 kend/hari
  • e. Truk 3 as 20 ton 39 x ( 1 + 0,05)5 = 49 kend/hari
LHR 2023 (a+b+c+d+e) = 4692 kend/hari



Menentukan Angka Ekivalen
Angka ekivilen per sumbu dapat dilihat pada tabel di bawah :


Sumber : Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya

dengan metode Analisa Komponen, Depaertemem Pekerjaan Umum (1987)

Berdasarkan tabel didapat angka ekivalen :

  • a. Mobil penumpang (1+1) = 0,0002 + 0,0002 = 0,0004
  • b. Bus 8 ton (3+5) = 0,0183 + 0,1410 = 0,1593
  • c. Truk 2 as 10 ton (4+6) = 0,0577 + 0,2923 = 0,35
  • d. Truk 2 as 13 ton (5+8) = 0,1410 + 0,9238 = 1,0648
  • e. Truk 3 as 20 ton (6+7+7) = 0,2923 + 0,5415 + 0,5415 = 1,3753

Menentukan LEP 
Dari data yang telah di dapat, dapat dihitung nilai LEP yaitu :

  • a. Mobil penumpang 2249 x 0,5 x 0,0004 = 0,44974
  • b. Bus 8 ton 468 x 0,5 x 0,1593 = 37,2738
  • c. Truk 2 as 10 ton 91 x 0,5 x 0,35 = 15,9535
  • d. Truk 2 as 13 ton 43 x 0,5 x 1,0648 = 22,6497
  • e. Truk 3 as 20 ton 30 x 0,5 x 1,3753 = 20,8961
LEP 2009 (a+b+c+d+e) = 97,2229


Menentukan LEA
Perhitungan LEA untuk 5 tahun (2014)

  • a. Mobil penumpang 2870 x 0,5 x 0,0004 = 0,57399
  • b. Bus 8 ton 597 x 0,5 x 0,1593 = 46,3362
  • c. Truk 2 as 10 ton 116 x 0,5 x 0,35 = 20,3612
  • d. Truk 2 as 13 ton 54 x 0,5 x 1,0648 = 28,9074
  • e. Truk 3 as 20 ton 39 x 0,5 x 1,3753 = 26,6693
LEA 2014 (a+b+c+d+e) = 124,084

Perhitungan LEA untuk 10 tahun (2019)

  • a. Mobil penumpang 3663 x 0,5 x 0,0004 = 0,73257
  • b. Bus 8 ton 762 x 0,5 x 0,1593 = 60,7151
  • c. Truk 2 as 10 ton 148 x 0,5 x 0,35 = 25,9866
  • d. Truk 2 as 13 ton 69 x 0,5 x 1,0648 = 36,894
  • e. Truk 3 as 20 ton 49 x 0,5 x 1,3753 = 34,0375
LEA 2019 (a+b+c+d+e) = 158,366


Menentukan LER
LER = LET x UR/10
LER5

  • = LET5 x 5/10
  • = 110,653 x 0,5
  • = 55,327
LER5 = 1,67 x 55,327
LER5 = 92,396

LER10

  • = LET10 x 10/10
  • = 141,225 x 1
  • = 141,225
LER10 = 2,5 x 141,225
LER10 = 353,062


Penentuan Harga CBR
Dari data yang didapat data CBR sebesar : 4 5 6 7 8 9 10 5 4 8
CBR rata-rata = 4+5+6+7+8+9+10+5+4+8 / 10 = 6,6
CBR max = 10
CBR min = 4

Untuk nilai R tergantung dari jumlah data yang terdapat dalam 1 segmen. Besarnya nilai R seperti yang diperlihatkan pada tabel di bawah ini :



Sumber : Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya
dengan metode Analisa Komponen, Depaertemem Pekerjaan Umum (1987)


Sumber : Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya
dengan metode Analisa Komponen, Depaertemem Pekerjaan Umum (1987)


Sumber : Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya

dengan metode Analisa Komponen, Depaertemem Pekerjaan Umum (1987)



Sumber : Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya

dengan metode Analisa Komponen



Sumber : Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya

dengan metode   Analisa Komponen, Depaertemem Pekerjaan Umum (1987)



batas-batas minimum tebal lapisan perkerasan untul lapis pondasi
Tebal lapisan minimum dilihat dari ITP = 6,8
- Lapisan permukaan : Laston, MS 744 d1 = 7,5
- Lapisan Pondasi atas : Batu pecah kelas A d2 = 20
- Lapisan Pondasi bawah : Sirtu kelas B d3 = 10

ITP = a1 x d1 + a2 x d2 + a3 x d3
7,25 = 3 + 2,8 + 0,12 d3
= 5,8 + 0,12 d3
d3 = 12,08 cm = 12 cm ( untuk D3 tebal minimum adalah 10 cm)

Untuk 10 Tahun
Koefisien kekuatan relatif, dilihat dari tabe koefisien relatif

  • - Lapisan permukaan : Laston, MS 744 a1 = 0,40
  • - Lapisan Pondasi atas : Batu pecah kelas A a2 = 0,14
  • - Lapisan Pondasi bawah : Sirtu kelas B a3 = 0,12

Tebal lapisan minimum dilihat dari ITP = 8,3

  • - Lapisan permukaan : Laston, MS 744 d1 = 7,5
  • - Lapisan Pondasi atas : Batu pecah kelas A d2 = 20
  • - Lapisan Pondasi bawah : Sirtu kelas B d3 = 10

ITP = a1 x d1 + a2 x d2 + a3 x d3
8,5 = 3 + 2,8 + 0,12 d3
= 5,8 + 0,12 d3
d3 = 22,5 cm = 23 cm

Untuk 10 Tahun
8,5 = 0,4 d1 + 0,14 d2 + 0,12 d3
8,5 = 0,4 d1 + 2,8 + 2,76
= 5,56 + 0,4 d1
d1 = 7,35 cm = 7 cm

d0 = 7,5 - 7 
d0 = 0,5 cm = 3 cm (syarat tebal minimum)
continue reading CONTOH PERHITUNGAN PERENCANAAN PERKERASAN JALAN